Catatan Tentang Jambu Cingcalo

Catatan Tentang Jambu Cingcalo

KEMBALI ke Indonesia, negeri tercinta, aku kemudian istirahat selama dua hari. Dalam istirah aku merasa betapa Allah Maha Baik mengenalkanku dengan aneka jambu. Seperti yang aku ketahui tentang jambu Cingcalo dari rumpun jambu air. Jambu air memang lebih beragam dan namanya pun cukup seronok. Coba sebut Bol, Monyet, Golek, apa nggak seru.

Akan halnya jambu Cingcalo aku punya catatan tersendiri. Seiring dengan rumah di Tangerang, selain jambu Bangkok, aku punya jambu Cingcalo. Jambu ini diperoleh Bapakku dari Bosnya. Seperti jambu Bangkok yang dari cangkokan, Cingcalo ini lebih istimewa. Karena dari sananya – di Kebon Pala, Jatinegara, Jakarta – sudah bagus, demikian pula saat ditanam di Tangerang. Meski berjarak sepuluh meter dari tempat jambu Bangkok yang ditanam.

Buahnya sangat lebat. Dari cabang terbawah sampai yang tinggi dipenuhi buah jambu Cingcalo. Teduh rasanya melihatnya, apalagi jika memetik jambunya. Seperti halnya dengan jambu Bangkok, Cingcalo selalu kami sekeluarga bagikan kepada para tetangga, bahkan ini sampai beberapa gang saking banyaknya. Namun, prinsip bahwa ini menjadi milik bersama tetap dipegang teguh. Ada beberapa kali tukang buah yang lewat ingin memborongnya dengan harga tinggi aku tetap tidak mau.

Mereka yang lewat dipersilakan memetiknya. Sampai ada yang merasa bosan karena terus merasakan manis dan nikmatnya Cingcalo itu. Para tetangga yang kebetulan bikin hajat entah itu kawinan, sunatan, sudah tidak terbilang menjadikan Cingcalo sebagai bagian hidangan mereka.

Namun, ada juga yang keterlaluan memanfaatkan. Seperti saudara tetangga yang kayak punya sendiri saja. Tidak mau sudah saat diberi kesempatan memetik sendiri. Tiga plastik besar yang berisi penuh Cingcalo belum juga membuatnya puas. Ah…

Related posts

Leave a Comment