DI Thailand, Masih Tentang Jambu Bangkok

DI Thailand, Masih Tentang Jambu Bangkok

SEPERTI apa jambu Bangkok yang tumbuh dan berkembang di tanah aslinya, Bangkok. Ya, sama, seperti jambu Bangkok yang bibitnya pernah aku peroleh dari Jakarta dan kemudian aku tanam di Tangerang dalam keadaan subur tanpa biji. Itu yang aku ketahui setelah aku sempat pergi ke Bangkok, kemudian parkir dua pekan di Nakhon Ratchasima – tempat SEA Games ke-24 – Thailand.

Di Negeri Gajah Putih itu sejatinya aku meliput pesta olahraga terbesar negara-negara Asia Tenggara, 6-15 Desember 2007, bersama para wartawan olahraga yan berkesempatan ke sana. Namun, aku mendapat kesulitan yang membuahkan keberuntungan. Demikian aku menyebutnya.

Dari Bekasi pukul 05.00 WIB, naik Bus Damri, aku baru sampai Bandara Soekarno-Hatta pukul 12.00 WIB. Tentu saja, aku ketinggalaan pesawat yang berangkat pukul 11.00 WIB sebagai jadwalku. Setelah nego bolak-balik dengan pihak maskapai akhirnya aku diperbolehkan berangkat malam harinya, pukul 23.00 WIB. Kok bisa maskapai sebaik itu? Ini karena aku harus ikut mengalami post majeure. Jalan menuju Bandara dari nama dua pendiri Republik ini mengalami banjir besar, sehingga terjadi keterlambatan yang sangat parah.

Aku sampai Bandara Suvarnabhumi dinihari keesokan harinya setelah menempuh perjalanan 3 jam 5 menit. Pada kesempatan ini aku manfaatkan untuk berkeliling ibu kota Thailand sebelum berangkat menuju Nakhon pagi harinya. Di sinilah aku tahu jambu Bangkok asli yang ternyata tidak ada bedanya dengan di Tangerang yang aku tanam. Kesimpulan sederhanaku, mungkin karena tanahnya masih serumpun sama-sama di Asia Tenggara. Jadi, yang ditanam tumbuhnya pun tiada beda.

Jika di Bangkok hanya bisa melihat, termasuk saat mau pulang ke Indonesia. Di Nakhon, aku puas menikmati jambu Bangkok. Itu karena kantin muslim penjual nasi plus lauk-pauknya di belakang MPC (Main Press Center) selalu memberikan kami potongan jambu Bangkok sebagai hidangan penutup.

Asyiknya si pemilik warung bisa bahaya Melayu, sehingga nyambung dalam percakapan. Dan, itu sebenarnya tidak aneh, mengingat dia dari Pattani, provinsi di Thailand yang memang berbahasa Melayu.

Paling tidak setiap makan siang aku memakan potongan-potongan jambu Bangkok yang diberikannya. Jika dihitung bisa setengah butir. Dikalikan dua pekan. Lebih tujuh jambu Bangkok yang aku makan selama di sana.

Related posts

Leave a Comment