Renungan Fakhrunnas

airmata

Judul Buku : Airmata Musim Gugur
Penulis : Fakhrunnas MA Jabbar
Pengantar : H. Ian Machyar
Jumlah Halaman : 149
Penerbit : Siger Publisher & TirasKita
Tahun Terbit : Mei 2016

INILAH buku tunggal ketiga dari penyair produktif Riau, Fakhrunnas MA Jabbar. Sebelum menerbitkan “Airmata Musim Gugur”, ia menghadirkan “Airmata Barzanji” (2003) dan “Tanah Airku Melayu” (2010).

Penyair lulusan forum “Puisi Indonesia ’87” ini ‘menghadiahkan’ para pembaca karya perjalanannya ke banyak tempat di dalam dan luar negeri. Tentu saja, menarik untuk disimak. Renungan Fakhrunnas pasti berbeda dengan penyair Indonesia terdahulu yang pernah merasakan ‘keliling’ Eropa, misalnya Rendra, Wing Kardjo. Atau yang seangkatannya seperti Acep Zamzam Noor, Isbedy Stiawan ZS, atau Soni Farid Maulana.

Penulis Nominator Khatulistiwa Literary Award ini memang me-nampilkan sejumlah puisinya dengan intensitas penuh. Jadi, sangat asyik untuk dibaca. Tidak sekadar penghayatannya terhadap alam sekitar di mana ia berada. Namun, ‘sambatannya’ terhadap junjungannya: Allah Yang Maha Pencipta.

Meski romantis, religiositasnya tampak kuat. Ia menukik ke dalam jiwa. Demikian menggelora lalu pasrah. Seperti puisi di bawah ini:

SAMUDERA KATA
katamu
kata-kata diucapkan suara dilaungkan
katamu
kata-kata rindu pulang
kerja jua menanti
katamu
segala kata dan kerja
bermuarakah di samudera sunyi
milan, 26 Okt 2014

Fakhrunnas terpesona dengan apa yang dialami. Ia beruntung sebagai penyair, sehingga bisa berucap lewat puisi. (asp)

* Dimuat di Publik FSI, Edisi 3 Januari 2018

Related posts

Leave a Comment