Anugerah Seni Basoeki Abdullah Bangkitkan Dimensi Spiritual Kultural

basuki

SELEBRI – Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI), Hilmar Farid, menyebutkan “Anugerah Seni Basoeki Abdullah ke-3” mengambil tema Re-Mitologisasi. Hal ini ditujukan untuk membangkitkan kembali dimensi spiritual kultural di tengah dunia yang semakin modern ini.

Hilmar Farid dalam konferensi pers yang digelar di FX Senayan, Jakarta, Senin (18/2), mengatakan hal ini juga menjadi napak tilas pelukis Basoeki Abdullah. Karena pelukis ini memang kerap mengangkat tema-tema mitologi dalam karyanya.

“Tema ini tepat waktu di zaman revolusi industri 4.0 menyambut masyarakat 5.0. Karena untuk membangun dimensi yang sifatnya spiritual sebuah naratif sangat penting,” kata Hilmar.

Menurut Hilmar, setiap bangsa jelas memerlukan cerita agar menjadi sebuah bangsa yang kokoh dan berkarakter. Cerita ini juga digunakan untuk mengikat bangsa yang di dalamnya hidup beragam anak bangsa dengan berbagai bahasa daerah dan etnisitas.

“Dan, kontribusi kesenian dalam mengangkat narasi ini sangat luar biasa. Seringkali yang ditampilkan untuk menguatkan adalah mitologi,” ucapnya.

Kemudian, Hilmar mengutip pernyataan sosilog Jerman Max Webber yang menyebut saat dunia modern berkembang, ikatan manusia dengan macam-macam narasi yang sifatnya mitologis ini cenderung merendah.

Dia tak menampik kalau untuk perkembangan tertentu masyarakat yang semakin rasional tentu menjadi fenomena yang baik. Namun, justru kering saat nilai spiritual dan kultural itu hilang sama sekali.

“Kalau kemudian dilihat di zaman modern, segi spiritual ini yang lemah. Peran agama sangat merosot, nilai tradisi juga sama. Orang jadi sangat rasional, masyarakat kering, maju tapi kehilangan dimensi yang sangat penting yang punya narasi cerita sama,” katanya.

Hilmar pun menghubungkan penguatan kembali nilai mitologis ini dengan peran pelukis Basoeki Abdullah yang dia sebut sangat romantis. Saat mengguratkan kuasnya di kanvas dan melukis karya-karya yang bersumber dari mitos bangsa.

“Beliau melukis sangat mempesona dan kena dalam membangun narasi tentang bangsa. Untuk apa jadi sebegitu maju kalau dimensi spiritual kultural hilang? Jadi, melihat segi spiritual, mitologis yang mengikat kebersamaan kita, dan sekarang menjadi sangat penting,” ungkapnya.

Hilmar berharap lewat kegiatan ini bisa mengajak para perupa berusia 17 sampai 30 tahun untuk merespons situasi ini.

“Karena mereka yang disebut millenial dan bisa merespons dengan cara pandang yang berbeda. Banyak dimensi lain yang selama ini tidak tergarap dan diharapkan mereka berkontribusi pada menyongsong revolusi 4.0 yang lebih bermakna,” tandasnya. (Ant/diy)

Related posts

Leave a Comment